Fukuoka, 31 Juli 2026 – Suasana khusyuk menyelimuti Musholla Kyushu University saat lebih dari 100 mahasiswa internasional menghadiri pelaksanaan Shalat Jumat. Tepat pukul 12.30, azan Jumat berkumandang, dilanjutkan dengan khutbah yang disampaikan oleh Ustadz Nur Fajri Romadhon dengan mengangkat tema “Nikmat Ditutupinya Aib”.
Dalam khutbahnya, Ustadz Nur Fajri mengingatkan bahwa di antara nikmat terbesar yang sering luput disyukuri adalah ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menutupi aib dan dosa hamba-Nya. Seandainya setiap dosa manusia tampak di hadapan orang lain, niscaya tidak ada seorang pun yang mampu hidup dengan tenang. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya senantiasa bersyukur atas nikmat besar ini, sekaligus memanfaatkan kesempatan hidup untuk memperbanyak taubat dan memperbaiki diri.

Beliau menjelaskan bahwa Allah tidak hanya menutupi aib, tetapi juga membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang benar-benar bertaubat. Di antara syarat agar seseorang memperoleh kemuliaan tersebut adalah sebagai berikut.
- Tidak melakukan dosa secara terang-terangan
Rasulullah ﷺ bersabda:
«كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ.»
“Seluruh umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat maksiat. Di antara bentuk terang-terangan itu ialah seseorang melakukan dosa pada malam hari, lalu pada pagi harinya ia berkata, ‘Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu,’ padahal Allah telah menutupi dosanya, namun ia sendiri membuka kembali tutupan Allah atas dirinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan agar seorang Muslim menjaga kehormatan dirinya dengan tidak menceritakan dosa yang telah Allah tutupi.
- Tidak terus-menerus melakukan dosa, tetapi segera bertaubat
Ustadz Nur Fajri menyampaikan kisah yang dinukil dari sebagian ulama tentang seorang pencuri pada masa Khalifah Umar bin al-Khattab. Ketika tertangkap, ia mengaku baru sekali mencuri. Umar tidak mempercayainya.
Disebutkan dalam riwayat
نستعرض القصة التي وقعت في عهد عمر بن الخطاب
حينما أمر بقطع يد سارق فقال والله يا أمير المؤمنين هذه أول مرة أسرق فيها قال عمر :
كذبت فإن الله يستر على عباده ولا يفضحهم من أول مرة
فقال الرجل صدقت يا أمير المؤمنين فهذه المرة الأولى بعد العشرين .
sebuah kisah yang terjadi pada masa Umar bin al-Khattab. Ketika beliau memerintahkan agar tangan seorang pencuri dipotong, pencuri itu berkata, ‘Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, ini adalah pertama kalinya aku mencuri.’ Maka Umar berkata, ‘Engkau berdusta. Sesungguhnya Allah menutupi aib hamba-hamba-Nya dan tidak membongkar aib mereka sejak pertama kali.’ Lalu orang itu berkata, ‘Benar, wahai Amirul Mukminin. Ini memang pertama kalinya setelah dua puluh kali (mencuri sebelumnya).
‘البيهقي في “سننه الكبرى”(8/276) ،
. Kisah ini sering dijadikan pelajaran bahwa dosa yang terus-menerus dilakukan dapat menyebabkan Allah membuka aib pelakunya.
- Tidak melakukan tajassus dan mencari-cari kesalahan orang lain
Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ اتَّبَعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ اتَّبَعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ اتَّبَعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي بَيْتِهِ.»
“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum Muslimin dan jangan mencari-cari aib mereka. Barang siapa mencari-cari aib saudaranya, Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barang siapa Allah mencari-cari aibnya, Allah akan membongkarnya meskipun ia berada di dalam rumahnya.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Melalui hadis ini, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kaum Muslimin menjaga kehormatan sesama, tidak gemar mengintai kesalahan orang lain, dan tidak menyebarkan keburukan yang dapat merusak persaudaraan.
Khutbah yang sarat dengan pesan muhasabah ini mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah yang telah menutupi aib-aib kita, memperbanyak istighfar dan taubat, serta menjaga lisan dan sikap agar tidak membuka aib diri sendiri maupun mencari-cari kesalahan orang lain.
Rangkaian ibadah Jumat kemudian ditutup dengan doa bersama dan pelaksanaan Shalat Jumat. Setelah itu, para jamaah melanjutkan silaturahmi dalam suasana hangat melalui ramah tamah di Nabi San Resto sambil menikmati hidangan nasi biryani halal. Kebersamaan yang diikuti lebih dari seratus mahasiswa mancanegara ini menjadi momentum mempererat ukhuwah Islamiyah serta menguatkan semangat menuntut ilmu dan berdakwah di lingkungan Kyushu University.
NB: Khutbah disampaikan dalam bhsa Inggris (Krn Mayoritas Mahasiswa Internasional non WNI)
