Oleh: Sam Abughazy
Tokyo–Ankara, Sabtu, 11 Muharram 1447 H/26 Juni 2027 – Semangat ukhuwah dan kolaborasi antar-kader Muhammadiyah lintas negara kembali terjalin melalui kegiatan Silaturahim Online Lintas Benua antara Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Turki dan PCIM Jepang. Pertemuan virtual ini diselenggarakan sebagai ajang silaturahim, berbagi pengalaman, serta penguatan organisasi dan kaderisasi di lingkungan Muhammadiyah di luar negeri.
Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Kedua pimpinan cabang saling bertukar gagasan mengenai strategi dakwah, pengelolaan organisasi, pengembangan amal usaha, serta penguatan kader di tengah tantangan dan dinamika kehidupan diaspora Indonesia di masing-masing negara.
Ketua PCIM Turki, Arif Dwi Saputra, menyampaikan apresiasi kepada PCIM Jepang yang dinilai cukup aktif dan progresif dalam mengembangkan gerakan dakwah di Jepang. Menurutnya, berbagai program seperti Baitul Arqam, safari dakwah, dan pembangunan amal usaha Muhammadiyah menjadi inspirasi bagi cabang-cabang Muhammadiyah di luar negeri.
“PCIM Jepang menunjukkan bahwa keterbatasan jumlah kader dan kondisi geografis bukanlah hambatan untuk terus bergerak dan menghadirkan manfaat bagi umat. Kami ingin belajar mengenai resep dan strategi yang diterapkan sehingga gerakan dakwah di Jepang dapat terus berkembang,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua PCIM Jepang justru menyampaikan apresiasi kepada PCIM Turki yang saat ini telah memiliki 18 Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) di berbagai wilayah Turki.
“Jika melihat perkembangan kelembagaan, sesungguhnya PCIM Turki jauh lebih hebat. PCIM Jepang hingga saat ini baru memiliki lima ranting. Karena itu, kami juga merasa perlu banyak belajar dari pengalaman PCIM Turki dalam membangun jaringan organisasi dan memperluas basis kader,” ujarnya.
Dalam sesi berbagi pengalaman, PCIM Jepang menyampaikan sejumlah prinsip yang selama ini menjadi spirit dalam menggerakkan organisasi, yang dikenal dengan ‘7 ER’, yaitu:
• Pinter, memiliki wawasan dan kemampuan yang terus berkembang;
• Kober, mau bekerja keras dan meluangkan waktu untuk dakwah;
• Bener, menjaga integritas dan keikhlasan dalam berorganisasi;
• Seger, selalu menghadirkan semangat dan energi positif;
• Lumer, mampu membaur dan diterima oleh berbagai kalangan;
• Seser, aktif bergerak dan memperluas jaringan dakwah;
• Banter, gesit dan cepat dalam merespons peluang dan tantangan.
Selain itu, kedua PCIM juga berbagi pengalaman mengenai pengelolaan Lazismu, strategi penguatan kaderisasi yang dilakukan secara simultan dan berkelanjutan, serta pentingnya menciptakan efek domino dakwah melalui kegiatan-kegiatan besar seperti tabligh akbar dan perintisan amal usaha Muhammadiyah.
Salah satu poin penting yang mengemuka dalam diskusi adalah perlunya keberanian mengambil risiko dalam berorganisasi, namun tetap dilakukan dengan kecermatan, perencanaan yang matang, dan kalkulasi yang tepat. Keberanian untuk memulai dan berinovasi dipandang sebagai salah satu kunci kemajuan gerakan Muhammadiyah di berbagai belahan dunia.
Pertemuan lintas benua ini ditutup dengan semangat untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi di masa mendatang. Kedua belah pihak menyampaikan keinginan untuk mengadakan Baitul Arqam bersama, pertukaran pengalaman kaderisasi, serta berbagai kegiatan positif lainnya yang dapat mempererat ukhuwah dan memperkuat peran Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid di tingkat global.
Silaturahim ini menjadi bukti bahwa jarak geografis tidak menjadi penghalang bagi kader-kader Muhammadiyah untuk saling belajar, menginspirasi, dan menguatkan satu sama lain demi kemajuan persyarikatan dan kemaslahatan umat.
