Oleh : Syaikh Musthafa Az Zarqa rahimahullah
Pakar Fiqih Internasional dan Penerima King Faisal Price Tahun 1984
Saya tidak menemukan dalam perbedaan para ulama syariah kontemporer sesuatu yang lebih mengherankan daripada perbedaan tajam mereka dalam hal yang seharusnya tidak layak diperselisihkan, yaitu tentang penggunaan hisab falaki (perhitungan astronomi) pada zaman kita sekarang untuk menentukan masuknya bulan qamariyah guna menetapkan hukum-hukum syariat yang terkait dengannya. Ya, saya menegaskan maksud saya khusus pada zaman kita ini, karena saya tidak mengingkari sikap negatif para ulama salaf kita dahulu yang tidak bersandar pada hisab falaki dalam masalah ini. Bahkan seandainya saya hidup pada zaman mereka, saya pun akan berpendapat seperti mereka.
Namun saya sangat tidak dapat menerima sikap negatif para tokoh syariah pada zaman ini, yaitu zaman ketika para ilmuwan telah menjelajahi cakrawala luar angkasa, dan pencapaian paling sederhana mereka adalah mendarat di bulan, kemudian menempatkan satelit-satelit pada orbit tertentu di sekitar bumi untuk berbagai tujuan: ilmiah, militer, dan pengintaian. Bahkan mereka melakukan berbagai perjalanan luar angkasa, keluar dari wahana mereka untuk berjalan-jalan di ruang angkasa di luar atmosfer bumi dan di luar jangkauan gravitasi bumi, bahkan menarik kembali satelit-satelit yang beredar untuk memperbaiki gangguan yang terjadi padanya ketika berada di ruang angkasa.
Saya yakin bahwa para ulama salaf terdahulu yang tidak menerima penggunaan hisab falaki karena alasan-alasan yang akan saya sebutkan—mengutip dari mereka—seandainya mereka hidup pada zaman kita dan menyaksikan perkembangan ilmu astronomi yang luar biasa presisi dan ketelitiannya, niscaya mereka akan mengubah pendapatnya. Sebab Allah telah menganugerahkan kepada mereka keluasan wawasan dalam memahami tujuan-tujuan syariah yang tidak diberikan kepada pengikut mereka di masa-masa belakangan. Jika pengamatan astronomi dan perhitungannya pada masa lalu belum cukup akurat dan dapat dipercaya untuk dijadikan sandaran, apakah pantas hukum itu tetap diberlakukan pada zaman kita sekarang?
Barangkali ada yang mengatakan bahwa penolakan terhadap penggunaan hisab falaki dalam menentukan awal bulan qamariyah bukan karena meragukan ketepatan dan keakuratannya, melainkan karena syariat Islam melalui lisan Rasulullah ﷺ telah mengaitkan kelahiran hilal dan masuknya bulan qamariyah dengan rukyat (penglihatan langsung). Hal itu berdasarkan sabda beliau ﷺ dalam hadis sahih dari Ibnu Umar رضي الله عنهما: “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika tertutup mendung maka perkirakanlah.” Dalam riwayat lain yang juga sahih: “Jika tertutup mendung maka sempurnakanlah hitungan tiga puluh.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Jika tertutup mendung maka perkirakanlah tiga puluh,” yang merupakan penjelasan atas makna “perkirakanlah” yang disebut secara mutlak pada riwayat pertama.
Dalam riwayat lain dari Bukhari, Muslim, dan an-Nasa’i dari Abu Hurairah رضي الله عنه disebutkan: “Apabila kalian melihat hilal maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya maka berbukalah. Jika tertutup mendung maka berpuasalah tiga puluh hari.”
Semua riwayat yang datang dari Nabi ﷺ dalam masalah ini mengaitkan puasa dan berbuka dengan melihat hilal baru. Dan makna “memperkirakan” ketika penglihatan terhalang oleh mendung, kabut, atau penghalang lainnya adalah menyempurnakan bulan yang sedang berjalan (Sya’ban atau Ramadan) menjadi tiga puluh hari. Tidak boleh dihukumi dua puluh sembilan hari kecuali dengan rukyat. Ini termasuk urusan ibadah yang hukum-hukumnya dibangun atas nash secara ta’abbudi tanpa melihat illat dan tanpa penggunaan qiyas.
Inilah hujah pihak yang tidak menerima penggunaan hisab falaki dalam menentukan awal bulan qamariyah, walaupun hisab itu mencapai tingkat kepastian melalui kemajuan sarana ilmiah.
Analisis masalah hisab falaki secara rasional dan fikih
Kami mengatakan bahwa semua itu kami terima dan dikenal dalam kaidah syariah dan ushul fikih tentang ibadah. Tidak ada ruang perdebatan di dalamnya. Namun hal itu berlaku pada nash-nash yang datang secara mutlak tanpa menyebutkan illat. Apabila nash itu sendiri menyebutkan illat yang datang bersamanya dari sumbernya, maka keadaannya berbeda. Illat tersebut berpengaruh dalam memahami nash dan dalam kaitan hukum dengannya, ada dan tidaknya dalam penerapan, sekalipun masalahnya termasuk ibadah.
Untuk memperjelas, kami katakan bahwa hadis Nabi yang disebutkan tadi bukan satu-satunya nash dalam masalah ini. Ada riwayat-riwayat sahih lain yang menjelaskan illat perintah beliau untuk bergantung pada rukyat hilal guna mengetahui masuknya bulan baru yang menjadi dasar kewajiban-kewajiban seperti puasa dan lainnya.
(Imam Muslim meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya bulan itu dua puluh sembilan hari.”)
Dan dalam riwayat Ibnu Umar رضي الله عنه disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghitung. Bulan itu begini dan begini…” (yakni terkadang 29 dan terkadang 30 hari).
Maknanya, beliau menunjukkan dengan kedua tangannya bahwa bulan terkadang 29 hari dan terkadang 30 hari.
Riwayat inilah yang menjadi inti pembahasan. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa alasan beliau memerintahkan rukyat adalah karena umat saat itu ummi, tidak menulis dan tidak menghitung. Tidak ada jalan lain untuk mengetahui awal dan akhir bulan selain dengan melihat hilal.
Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa maksud “tidak menulis dan tidak menghitung” adalah kebanyakan umat Islam saat itu tidak memiliki kemampuan tersebut. Dan hisab yang dimaksud adalah hisab pergerakan bintang (astronomi), yang pengetahuan mereka saat itu sangat terbatas. Maka hukum puasa dikaitkan dengan rukyat untuk menghindari kesulitan dalam perhitungan.
Ibnu Hajar juga menyatakan bahwa hukum ini tetap berlaku meskipun setelahnya ada yang mengetahui hisab, dan secara zahir teks menunjukkan tidak dikaitkannya hukum dengan hisab sama sekali.
Para ulama seperti al-‘Aini, Ibn Battal, al-Qasthalani, dan as-Sindi juga menjelaskan bahwa pengaitan hukum dengan rukyat adalah untuk menghindari kesulitan dan agar ibadah dikaitkan dengan tanda yang jelas dan mudah diketahui semua orang.
Dari sini jelas bahwa rukyat bukanlah ibadah pada dirinya sendiri, melainkan sarana yang memungkinkan saat itu.
Konsekuensinya, seandainya Rasulullah ﷺ dan kaum Arab saat itu memiliki ilmu dan hisab astronomi yang presisi sehingga mampu mengetahui kelahiran hilal secara pasti, niscaya mereka dapat menggunakannya. Demikian pula siapa saja yang memiliki ilmu dengan tingkat presisi yang dapat dipercaya. (Hisab yang pasti tentu lebih akurat daripada kesaksian dua orang yang mungkin keliru atau tertipu penglihatan.)
Sebagian ulama salaf bahkan berpendapat bahwa ahli hisab boleh mengamalkannya untuk dirinya sendiri, seperti Mutarrif bin Abdullah.
Penulis kemudian menjelaskan bahwa menyempurnakan tiga puluh hari saat tertutup mendung bukan berarti bulan itu pasti tiga puluh hari secara hakiki, tetapi itu cara praktis karena tidak ada sarana lain saat itu.
Sebab penolakan ulama terdahulu terhadap hisab
Para ulama dahulu menolak hisab karena pada zaman mereka ilmu falak masih bersifat dugaan dan pendekatan (hads dan takhmin), belum pasti dan presisi. Selain itu, hisab sering bercampur dengan praktik perbintangan (astrologi), perdukunan, dan sihir.
Ibnu Hajar, an-Nawawi, Ibn Taimiyah dan lainnya menjelaskan bahwa hisab pada masa itu tidak pasti dan penuh perkiraan. Bahkan Ibn Taimiyah sangat keras terhadap penggunaan hisab karena khawatir bercampur dengan astrologi yang dilarang.
Namun pada zaman sekarang, ilmu astronomi telah terpisah sepenuhnya dari astrologi. Ia berdiri di atas observatorium modern, teleskop raksasa, dan perhitungan presisi yang sangat akurat hingga sepersekian detik.
Maka apakah layak disamakan dengan kondisi masa lalu yang masih bersifat dugaan?
Pendapat akhir penulis
Penulis menyimpulkan empat poin utama:
1. Illat perintah rukyat adalah karena umat saat itu ummi dan tidak memiliki hisab yang akurat.
2. Penolakan ulama dahulu karena hisab saat itu bersifat dugaan dan tidak presisi.
3. Hisab dulu bercampur dengan astrologi dan praktik terlarang.
4. Pada zaman modern, hisab astronomi telah mencapai tingkat kepastian ilmiah yang sangat tinggi dan terpisah dari astrologi.
Karena itu, menurut penulis (Syekh Mustafa az-Zarqa رحمه الله), tidak ada penghalang syar’i untuk menggunakan hisab falaki yang pasti pada zaman ini.
Teks Arab Asli
لماذا الاختلاف حول الحساب الفلكي؟
لا أجد في اختلاف علماء الشريعة العصريين ما يدعو إلى الاستغراب أغرب من اختلافهم الشديد فيما لا يجوز فيه الاختلاف حول اعتماد الحساب الفلكي في عصرنا هذا؛ لتحديد حلول الشهر القمري لترتيب أحكامه الشرعية. نعم أؤكد على قصدي عصرنا هذا بالذات، ذلك لأنني لا أستبعد الموقف السلبي لعلماء سلفنا من عدم تعويلهم على الحساب الفلكي في هذا الموضوع، بل إنني لو كنت في عصرهم لقلت بقولهم.
لكني أستبعد كل الاستبعاد موقف السلبيين من رجال الشريعة في هذا العصر؛ الذي ارتاد علماؤه آفاق الفضاء الكوني، وأصبح أصغر إنجازاتهم النزول إلى القمر، ثم وضع أقمار صناعية في مدارات فلكية محددة حول الأرض لأغراض شتى: علمية وعسكرية وتجسسية، ثم القيام برحلات فضائية متنوعة الأحداث، والخروج من مراكبها للسياحة في الفضاء خارج الغلاف الجوي الذي يغلف الأرض، وخارج نطاق الجاذبية الأرضية، ثم سحب بعض الأقمار الصناعية الدوارة لإصلاح ما يطرأ عليها من اختلال وهي في الفضاء.
إني على يقين أن علماء سلفنا الأولين، الذي لم يقبلوا اعتماد الحساب الفلكي للأسباب التي سأذكرها قريبًا -نقلاً عنهم- لو أنهم وُجدوا اليوم في عصرنا هذا، وشاهدوا ما وصل إليه علم الفلك من تطور وضبط مذهل لغيروا رأيهم، فإن الله قد آتاهم من سعة الأفق الفكري في فهم مقاصد الشريعة ما لم يؤت مثلَه أتباعُهم المتأخرون، فإذا كان الرصد الفلكي وحساباته في الزمن الماضي، لم يكن له من الدقة والصدق ما يكفي للثقة به والتعويل عليه، فهل يصح أن ينسحب ذلك الحكم عليه إلى يومنا هذا؟
ولعل قائلاً يقول: إن عدم قبول الاعتماد على الحساب الفلكي في تحديد أوائل الشهور القمرية، ليس سببه الشك في صحة الحساب الفلكي ودقته، وإنما سببه أن الشريعة الإسلامية بلسان رسولها -ﷺ- قد ربطت ميلاد الأهلة وحلول الشهور القمرية بالرؤية البصرية، وذلك بقوله -ﷺ- في حديثه الثابت عن ابن عمر -رضي الله عنهما-: “صوموا لرؤيته -أي الهلال- وأفطروا لرؤيته، فإذا غمَّ عليكم فاقدروا له. وفي رواية ثابتة أيضًا: “فإن غُمَّ عليكم فأكلموا العدة ثلاثين”.
وقد أخرج هذا الحديث البخاري ومسلم. وفي رواية لمسلم: “فإن غم عليكم فاقدروا ثلاثين”، وهي تفسير لمعنى التقدير المطلق الوارد في الرواية الأولى.
وفي رواية أخرى عند البخاري ومسلم والنسائي عن أبي هريرة -رضي الله عنه-: “إذا رأيتم الهلال فصوموا، وإذا رأيتموه فأفطروا، فإن غُمَّ عليكم فصوموا ثلاثين يومًا”.
فجميع الروايات الواردة عن النبي -ﷺ- في هذا الشأن قد ربط فيها الصوم والإفطار برؤية الهلال الجديد. وإن القدر أو التقدير عندما تمتنع الرؤية البصرية لعارض يحجبها من غيم أو ضباب أو مانع آخر، معناه: إكمال الشهر القائم -شعبان أو رمضان- ثلاثين يومًا، فلا يحكم بأنه تسعة وعشرون إلا بالرؤية. وهذا من شؤون العبادات التي تبنى فيها الأحكام على النص تعبدًا دون نظر إلى العلل، ولا إعمال للأقيسة.
هذه حجة من لا يقبلون الاعتماد على الحساب الفلكي في تحديد أوائل الشهور القمرية، ولو بلغ الحساب الفلكي من الصحة والدقة مبلغ اليقين بتقدم وسائله العلمية.
تحليل موضوع الحساب الفلكي وفهمه عقلاً وفقهًا
ونحن نقول بدورنا: إن كل ذلك مسلم به لدينا، وهو معروف في قواعد الشريعة وأصول فقهها بشأن العبادات، ولا مجال للجدل فيه، ولكنه مفروض في النصوص التي تلقى إلينا مطلقة غير معللة، فإذا ورد النص نفسه معللاً بعلة جاءت معه من مصدره، فإن الأمر حينئذ يختلف، ويكون للعلة تأثيرها في فهم النص وارتباط الحكم بها وجودًا وعدمًا في التطبيق، ولو كان الموضوع من صميم العبادات، ولكي تتضح لنا الرؤية الصحيحة في الموضوع نقول: “إن هذا الحديث النبوي الشريف الآنف الذكر ليس هو النص الوحيد في الموضوع، بل هناك روايات أخرى ثابتة عن الرسول -ﷺ- توضِّح علة أمره باعتماد رؤية الهلال البصرية للعلم بحلول الشهر الجديد؛ الذي نيطت به التكاليف والأحكام، من صيام وغيره.
فقد أخرج الإمام مسلم في صحيحه عن أم سلمة -رضي الله عنها- في كتاب الصيام، باب الصوم لرؤية الهلال: أن رسول الله -ﷺ- قال: “إن الشهر يكون تسعة وعشرين يومًا.
وأخرج أيضًا بعده عن ابن عمر -رضي الله عنه- أن النبي -ﷺ- قال: “إنا أمة أمية لا نكتب ولا نحسب، الشهر هكذا وهكذا، وعقد الإبهام في الثالثة (أي: طواه) والشهر هكذا وهكذا يعني تمام الثلاثين.
ومفاد هذا الحديث أنه -ﷺ- أشار (أولاً) بكلتا يديه وبأصابعه العشر ثلاث مرات، وطوى في الثالثة إبهامه على راحته لتبقى الأصابع فيها تسعًا، لإفادة أن الشهر قد يكون تسعة وعشرين يومًا، ثم كرر الإشارة ذاتها (ثانيًا) دون أن يطوي في المرة الثالثة شيئًا من أصابعه العشر، ليفيد أن الشهر قد يكون أيضًا ثلاثين يومًا؛ أي: أنه يكون تارة تسعة وعشرين وتارة ثلاثين.
هكذا نقل النسائي تفسير هذا الحديث عن شعبة عن جبلة بن سحيم عن ابن عمر.
وكذلك ليس هذا هو كل شيء من الروايات الواردة في هذا الموضوع، فالرواية التي أكملت الصورة، وأوضحت العلة، فارتبطت أجزاء ما ورد عن الرسول -ﷺ- في هذا الشأن بعضها ببعض، هي ما أخرجه البخاري ومسلم وأحمد وأبو داود والنسائي (واللفظ للبخاري) أن رسول الله -ﷺ- قال: “إنا أمة أمية لا نكتب ولا نحسب، الشهر هكذا وهكذا” يعني مرة تسعة وعشرين، ومرة ثلاثين، وكلهم أوردوا ذلك في كتاب الصوم. وقد أخرجه أحمد عن ابن عمر.
فهذا الحديث النبوي هو عماد الخيمة، وبيت القصيد في موضوعنا هذا، فقد علل رسول الله -ﷺ- أمره باعتماد رؤية الهلال رؤية بصرية لبدء الصوم والإفطار بأنه من أمة أمية لا تكتب ولا تحسب، فما من سبيل لديها لمعرفة حلول الشهر ونهايته إلا رؤية الهلال الجديد، ما دام الشهر القمري يكون تارة تسعة وعشرين وتارة ثلاثين. وهذا ما فهمه شراح الحديث من هذا النص.
قال الحافظ ابن حجر في فتح الباري: “لا نكتب ولا نحسب” (بالنون فيهما)، والمراد أهل الإسلام الذين بحضرته في تلك المقالة، وهو محمول على أكثرهم؛ لأن الكتابة كانت فيهم قليلة نادرة. والمراد بالحساب الفلكي هنا حساب النجوم وتسييرها، ولم يكونوا يعرفون من ذلك أيضًا إلا النزر اليسير، فعلق الحكم بالصوم وغيره بالرؤية لرفع الحرج عنهم في معاناة حساب التسيير.
أضاف ابن حجر بعد ذلك قائلاً: “واستمر الحكم في الصوم ولو حدث بعدهم من يعرف ذلك، بل ظاهر السياق يشعر بنفي تعليق الحكم بالحساب الفلكي أصلاً”.[1]
والعيني في “عمدة القاري” قد علل تعليق الشارع الصوم بالرؤية أيضًا بعلة رفع الحرج في معاناة حساب التسيير كما نقلناه عن ابن حجر. ونقل العيني
