FUKUOKA, JEPANG – Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) Fukuoka bersama Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang menerima kunjungan delegasi seni bela diri tradisional Jepang dari Indonesia, Muhammad Edi Suharyawan (Edi) , Kepala Seibukan Dojo Indonesia. Pertemuan yang berlangsung di lingkungan Kyushu University, Fukuoka, tersebut menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus membangun sinergi dalam penguatan pertukaran budaya, dakwah kultural, dan pemberdayaan masyarakat Indonesia di Jepang.
Dalam pertemuan tersebut, Ketua PRIM Fukuoka, Thema Arrisaldi, menyambut kunjungan Muhammad Edi Suharyawan dan berdiskusi mengenai sejumlah isu strategis yang berkaitan dengan hubungan kebudayaan Indonesia-Jepang, peran organisasi kemasyarakatan, serta kontribusi warga negara Indonesia (WNI) dalam kehidupan sosial di Jepang.
Kunjungan ini juga berkaitan dengan penyelenggaraan 40th Anniversary of Dai Nihon Seigi Ryuu Seibukan – Kenbujutsu and Gin’ei Grand Performance, sebuah perhelatan budaya tradisional Jepang yang diselenggarakan pada Minggu, 1 November 2026, di Chikushino City Cultural Hall, Prefektur Fukuoka. Dalam undangan resminya, Muhammad Edi Suharyawan turut mengundang Kusen, Ph.D. (Kyani Cepu), Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Samurai sebagai Jembatan Diplomasi dan Pertukaran Budaya
Salah satu pembahasan penting dalam pertemuan tersebut adalah bagaimana seni bela diri tradisional Jepang, khususnya Kenjutsu, dapat menjadi jembatan diplomasi budaya antara Indonesia dan Jepang.
Samurai tidak hanya dikenal sebagai bagian dari sejarah militer Jepang, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, penghormatan, integritas, dan pengendalian diri. Nilai-nilai tersebut memiliki relevansi dengan pendidikan karakter dan pembentukan kepribadian generasi muda.
Dalam konteks ini, seni bela diri dapat menjadi instrumen diplomasi kebudayaan yang mempertemukan masyarakat lintas negara, agama, dan latar belakang. Pertukaran budaya tidak sekadar memperkenalkan tradisi masing-masing bangsa, tetapi juga membangun saling pengertian, kepercayaan, dan persahabatan.
Bagi Muhammadiyah, ruang kebudayaan seperti ini merupakan bagian dari dakwah kultural, yakni pendekatan dakwah yang membangun komunikasi dan interaksi melalui nilai-nilai kemanusiaan, pendidikan, seni, dan kebudayaan.

Pekerja Migran Indonesia: Komponen Penting Masyarakat Indonesia di Jepang
Selain pertukaran budaya, pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya peran pekerja migran Indonesia sebagai salah satu komponen penting masyarakat Indonesia di Jepang.
WNI di Jepang memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari mahasiswa, peneliti, tenaga profesional, pekerja migran, hingga keluarga diaspora. Keberagaman tersebut merupakan potensi besar dalam membangun komunitas Indonesia yang produktif, berdaya, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat Jepang.
Pekerja migran Indonesia tidak semata-mata dipandang sebagai tenaga kerja, tetapi juga sebagai representasi bangsa Indonesia yang berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kapasitas, pendidikan, pembinaan karakter, serta perlindungan hak-hak pekerja menjadi perhatian penting.
Dalam hal ini, organisasi masyarakat dan keagamaan seperti Muhammadiyah memiliki ruang kontribusi melalui penguatan komunitas, pendampingan sosial, pendidikan, serta pembinaan keagamaan yang inklusif dan berkemajuan.
Muhammadiyah dan Penguatan Dakwah Kultural di Jepang
Pertemuan tersebut juga membuka ruang diskusi mengenai peran Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam mengembangkan seni dan budaya sebagai bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah.
Kolaborasi antara komunitas Muhammadiyah di Jepang dengan pegiat seni dan budaya Indonesia-Jepang diharapkan dapat memperluas ruang interaksi masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan karakter, kebudayaan, dan pengembangan sumber daya manusia.
PCIM Jepang dan PRIM Fukuoka memandang bahwa dakwah di lingkungan masyarakat internasional perlu dikembangkan melalui pendekatan yang adaptif, dialogis, dan menghargai keberagaman. Kehadiran Muhammadiyah di Jepang bukan hanya untuk memperkuat kehidupan keislaman warga Indonesia, tetapi juga membangun hubungan sosial yang harmonis dengan masyarakat setempat.
Melalui pertemuan ini, diharapkan terbangun kolaborasi berkelanjutan antara komunitas Muhammadiyah, lembaga seni budaya, serta berbagai elemen masyarakat Indonesia dan Jepang.
Pertukaran budaya bukan sekadar mengenalkan identitas bangsa, melainkan membangun jembatan persahabatan, memperkuat nilai kemanusiaan, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi kehidupan bersama.
PCIM Jepang – Islam Berkemajuan, Mencerahkan Semesta.
