Materi Dr. KH Saad Ibrahim Ketua PP Muhamamdiyah
Dalam kegiatan Baitul Arqam yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang, KH Saad Ibrahim menyampaikan materi yang mendalam tentang perjalanan dan perkembangan dakwah Islam. Beliau mengawali dengan menjelaskan bagaimana dakwah Nabi Muhammad SAW dimulai di kota Mekah dengan berbagai tantangan dan tekanan dari kaum Quraisy. Meskipun penuh tekanan, dakwah tetap dilakukan secara konsisten dan penuh kesabaran. Setelah hijrah ke Madinah, Islam mulai tumbuh sebagai kekuatan sosial-politik dengan terbentuknya masyarakat Islam yang kokoh. Dari sanalah dakwah Islam menyebar ke seluruh wilayah Jazirah Arab, dan kemudian menembus wilayah kekaisaran besar seperti Persia dan Romawi, menjadikan Islam sebagai agama yang mendunia.
KH Saad Ibrahim menekankan bahwa proses penyebaran Islam sejak awal memang mengandung visi global. Islam tidak hanya hadir untuk satu bangsa atau satu generasi, tetapi untuk seluruh umat manusia sepanjang zaman. Nilai-nilai universal yang dibawa oleh Islam—seperti keadilan, kejujuran, dan kasih sayang—dapat diterima oleh berbagai bangsa dan budaya. Inilah yang menjadikan dakwah Islam mampu menembus batas geografis dan kultural, karena ia membawa pesan yang relevan dan solutif untuk kehidupan manusia secara keseluruhan.
Dalam kaitannya dengan Muhammadiyah, KH Saad Ibrahim menegaskan pentingnya gerakan dakwah yang tidak hanya bersifat lokal atau nasional, tetapi juga global. Warga Muhammadiyah, termasuk yang berada di perantauan seperti di Jepang, memiliki peran penting sebagai duta Islam berkemajuan. Melalui pendidikan, pelayanan sosial, penguasaan ilmu dan teknologi, serta etos kerja yang profesional, dakwah Muhammadiyah harus bisa hadir di ranah global dengan membawa pesan pencerahan dan kemajuan. Semangat dakwah Muhammadiyah perlu meneladani dakwah Rasulullah SAW yang transnasional, visioner, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.

Materi Dr. Muhammad Ziyad adalah Ketua Lembaga Dakwah Khusus (LDK) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah
Dalam kegiatan Baitul Arqam kedua yang diselenggarakan oleh PCIM Jepang, Dr. Muhammad Ziyad selaku Ketua Lembaga Dakwah Khusus (LDK) PP Muhammadiyah menyampaikan materi yang menekankan pentingnya keikhlasan dalam berdakwah. Beliau mengingatkan bahwa dakwah di Muhammadiyah bukanlah tentang popularitas, panggung, atau imbalan duniawi, melainkan tentang ketulusan niat untuk menebarkan nilai-nilai Islam yang mencerahkan. Keikhlasan menjadi fondasi utama agar dakwah tetap konsisten meski menghadapi keterbatasan dan tantangan, terutama di era modern yang sarat dengan pencitraan dan godaan materialisme.
Dr. Ziyad juga membagikan kisah-kisah menyentuh dari pengalamannya mengunjungi daerah pelosok di Indonesia, seperti wilayah perbatasan, pegunungan terpencil, dan komunitas minoritas yang jauh dari pusat keramaian. Di tempat-tempat itu, ia menyaksikan langsung bagaimana para dai Muhammadiyah berjuang dengan penuh kesabaran dan ketulusan, tanpa fasilitas yang memadai, namun tetap istiqamah menebarkan dakwah. Kisah-kisah ini menjadi inspirasi bagi seluruh peserta Baitul Arqam bahwa dakwah sejati tidak mengenal pamrih dan batas geografis, dan justru di sanalah nilai keikhlasan diuji dan dimuliakan oleh Allah SWT.

Materi Dr. Marjuki Al Jawiy selaku Sekretaris Lembaga Dakwah Khusus (LDK) PP Muhammadiyah
Dalam kegiatan Baitul Arqam materi ketiga yang diselenggarakan oleh PCIM Jepang, Dr. Marjuki Al Jawiy selaku Sekretaris Lembaga Dakwah Khusus (LDK) PP Muhammadiyah menyampaikan materi penutup yang merangkum inti dari pesan-pesan dakwah yang telah disampaikan oleh KH Saad Ibrahim dan Dr. Muhammad Ziyad. Beliau menekankan bahwa dakwah Islam sejak awal adalah gerakan global yang penuh keikhlasan dan pengorbanan. Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang membawa Islam dari Mekah ke seluruh penjuru dunia, serta para dai Muhammadiyah yang menyebarkan dakwah hingga ke pelosok-pelosok Nusantara, semua itu lahir dari ketulusan niat dan semangat untuk membawa rahmat bagi semesta.
Dr. Marjuki kemudian menguatkan semangat para kader PCIM Jepang agar terus berperan aktif dalam dakwah Muhammadiyah di negeri rantau. Ia mengingatkan bahwa keberadaan mereka di Jepang adalah amanah besar untuk menjadi duta Islam berkemajuan di tengah masyarakat global. Meski jauh dari tanah air dan jumlah umat Islam di Jepang relatif kecil, hal itu tidak menjadi penghalang untuk berdakwah dengan pendekatan yang cerdas, santun, dan kontekstual. Dakwah di Jepang, menurut beliau, adalah ladang amal dan medan perjuangan yang sangat mulia, sekaligus bentuk nyata dari dakwah Muhammadiyah yang mendunia.
