Oleh: Salwa Aqila Lidia Bilbina
Di tengah hiruk pikuk kota Tokyo yang modern dan serba cepat, ada sebuah rumah sederhana yang setiap malam Ramadhan dipenuhi kehangatan iman dan persaudaraan. Rumah itu adalah kediaman Ibu Gina dan suaminya, Pak Yazid—rumah yang mereka wakafkan sementara untuk kegiatan Ramadhan bersama komunitas Muslim Indonesia.
Kegiatan ini berada di bawah naungan Yayasan Ainul Yaqin, sebuah yayasan yang didirikan oleh Ibu Gina bersama para koleganya untuk menjadi wadah silaturahmi dan pembinaan bagi komunitas Muslim Indonesia di Tokyo tanpa memandang latar belakang golongan.
Selama bulan suci Ramadhan tahun ini, yayasan tersebut turut mendukung kedatangan tiga da’i dari Dompet Dhuafa serta santri dari Madrasah Mu’allimin Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Tiga santri yang bertugas di Tokyo adalah Hafidz, Nadine, dan Sallwa.
Setiap hari mereka menjalankan berbagai peran dalam kegiatan Ramadhan. Hafidz bertugas menjadi imam shalat wajib dan tarawih, serta memberikan kajian setelah tarawih. Sementara Nadine dan Sallwa banyak membantu Ibu Gina menyiapkan hidangan ifthar dan konsumsi ba’da tarawih. Di akhir pekan, mereka juga mengajar anak-anak dalam kegiatan TPA yang diikuti oleh putra-putri keluarga Muslim Indonesia di Tokyo.
Menjelang waktu berbuka, dapur rumah Ibu Gina selalu dipenuhi aktivitas. Aroma masakan khas Indonesia tercium dari dapur, sementara Nadine dan Sallwa membantu menyiapkan hidangan dengan penuh semangat. Tak lama kemudian, satu per satu jamaah mulai berdatangan.
Setiap malam, rumah itu dipenuhi oleh warga negara Indonesia yang tinggal di Tokyo—mulai dari mahasiswa hingga pekerja yang telah lama menetap di Jepang. Mereka datang dengan berbagai cara: ada yang berjalan kaki, ada pula yang mengayuh sepeda puluhan menit dari tempat tinggalnya. Bahkan sesekali terlihat jamaah dari Filipina dan Malaysia yang turut bergabung.
Pada akhir pekan, suasana menjadi jauh lebih ramai. Ruang tamu dan lorong rumah dipenuhi jamaah yang datang untuk melaksanakan shalat Isya dan tarawih berjamaah.
Suatu malam, Hafidz sempat berbincang dengan salah satu jamaah bernama Pak Sani.
“Maaf Pak, apa yang membuat Bapak tetap semangat datang berjamaah di sini, meskipun harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit dengan sepeda?” tanya Hafidz dengan rasa penasaran.
Pak Sani tersenyum hangat sebelum menjawab.
“Saya ini sudah tidak muda lagi, Mas. Saya ingin memaksimalkan ibadah saya. Dulu waktu masih muda, saya belum maksimal beribadah. Jadi sekarang, dalam kondisi apa pun, saya berusaha datang. Semoga ini menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri.”
Jawaban sederhana itu membuat Hafidz terdiam sejenak. Ia merasa sangat tersentuh oleh ketulusan Pak Sani. Terlebih lagi, setelah kajian selesai, Pak Sani selalu terlihat membantu Pak Yazid menyiapkan kopi hangat sambil berbincang santai.
Suasana setelah tarawih menjadi momen yang paling hangat. Para jamaah duduk melingkar, bercengkerama, saling bertukar cerita tentang kehidupan di perantauan, sambil menikmati hidangan sederhana yang telah disiapkan. Tawa kecil dan obrolan ringan membuat rumah itu terasa seperti rumah bersama.
Di negeri yang jauh dari tanah air, rumah Ibu Gina seolah menjadi oase bagi para perantau untuk merasakan kembali kehangatan Ramadhan seperti di Indonesia.
Semoga Yayasan Ainul Yaqin terus berkembang dan semakin dipercaya oleh masyarakat dalam menyalurkan amanah dari para muzaki. Dan semoga cita-cita besar untuk memiliki tempat ibadah sendiri di Tokyo suatu hari nanti dapat terwujud, sehingga kegiatan dakwah dan pembinaan umat dapat terus berkembang bagi komunitas Muslim yang tinggal di negeri Sakura.
