Oleh: M. Hafidz Verdyansyah
Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Dalam program Ramadhan Global Experience (RGE), saya, Hafidz, kader tingkat 5, mendapatkan amanah untuk bertugas di kota Tokyo. Pada pekan pertama kegiatan, saya didampingi oleh Ustadz Solikhin yang membersamai dan membimbing berbagai aktivitas dakwah selama di Jepang.
Selama di Tokyo, saya tinggal di rumah Bapak Yazid dan Ibu Gina sebagai orang tua asuh. Ibu Gina dengan penuh kehangatan memberikan fasilitas dan akomodasi yang sangat lengkap, mulai dari tempat tinggal yang nyaman, hidangan sahur dan ifthar, sepeda untuk mobilitas di sekitar rumah, hingga kesempatan berjalan-jalan di waktu luang. Keramahan dan perhatian beliau benar-benar menghadirkan suasana kekeluargaan di negeri yang jauh dari tanah air.
Dalam keseharian, saya juga ditempatkan di sebuah apartemen bersama tiga da’i dari Dompet Dhuafa. Kebersamaan ini menjadi ruang belajar dan bertukar pengalaman dalam menguatkan dakwah di negeri minoritas Muslim.
Tugas utama saya di Tokyo adalah menjadi imam sholat Isya dan Tarawih di kediaman Ibu Gina. Beliau telah mewakafkan rumahnya selama bulan Ramadhan sebagai tempat sholat Tarawih berjamaah bagi warga Muslim yang tinggal di area Tokyo. Setiap malam, rumah tersebut dipenuhi jamaah yang rindu akan suasana ibadah yang khusyuk. Selain menjadi imam, saya juga bergantian dengan ustadz lain untuk menyampaikan tausiyah singkat setelah sholat Tarawih. Kegiatan kemudian diakhiri dengan menikmati jamuan yang disiapkan oleh Ibu Gina atau hidangan yang dibawa oleh warga sekitar, menambah hangat ukhuwah di perantauan.
Di waktu luang, bersama pendamping, saya berkesempatan mengunjungi beberapa lembaga pendidikan di Tokyo, seperti YUAI International School, International Islamic School Otsuka, serta Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Kunjungan ini menjadi sarana silaturahmi sekaligus mengenal lebih dekat pendidikan Muslim dan diaspora Indonesia di Jepang.
Selain itu, bersama Ibu Gina dan para ustadz lainnya, kami mengunjungi beberapa masjid di Tokyo. Di antaranya adalah Tokyo Camii, masjid megah yang didirikan oleh Pemerintah Turki; Masjid As-Salam yang menjadi pusat ibadah komunitas Sri Lanka; serta Masjid Indonesia Tokyo (MIT) yang berdekatan dengan Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Setiap masjid memiliki warna komunitas yang berbeda, namun semuanya dipersatukan oleh semangat ukhuwah Islamiyah.
Saya juga berkesempatan mengunjungi beberapa kampus ternama di Tokyo, seperti Tokyo University of Science dan The University of Tokyo. Kunjungan ini memberikan gambaran tentang semangat akademik dan kemajuan pendidikan di Jepang, sekaligus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas diri sebagai kader umat.
Setiap pagi, setelah sholat Subuh dan tadarus di rumah, saya biasa berkeliling Tokyo menggunakan sepeda. Kota ini dikenal dengan kebersihan, kerapian, serta tata kelola yang sangat tertib. Pada awal Ramadhan, suhu di Tokyo umumnya berada di kisaran 5–15°C, dengan udara yang masih terasa sejuk bahkan cenderung dingin di pagi hari. Suasana ini menghadirkan sensasi Ramadhan yang berbeda dibandingkan di Indonesia, namun tetap menghadirkan kehangatan dalam kebersamaan dan ibadah.
Ramadhan di Tokyo mengajarkan saya bahwa dakwah tidak mengenal batas geografis. Di tengah minoritas, justru ukhuwah terasa semakin kuat. Semoga pengalaman ini menjadi bekal untuk terus berkhidmat bagi umat, di manapun Allah menempatkan kita.
