Oleh: Alfi Khairi Mumtaza

Ramadhan di Jepang menghadirkan pengalaman yang berbeda. Di tengah suasana tenang kota Mihara, Prefektur Hiroshima, kami menjalani hari-hari sebagai bagian dari program Muballigh Hijrah di Masjid Mihara. Di sinilah kami belajar bahwa menghidupkan syiar Islam bukan hanya tentang ramainya jamaah, tetapi tentang kesetiaan menjaga amanah dalam segala keadaan.

Pagi kami dimulai lebih awal dari kebanyakan orang. Saat langit masih gelap dan udara terasa dingin, dapur masjid sudah menyala. Kami memasak untuk santapan sahur—sederhana, hangat, dan penuh kebersamaan. Seusai sahur, adzan Subuh kami kumandangkan, menggema lembut di antara bangunan-bangunan yang masih terlelap. Sholat Subuh berjamaah dilanjutkan dengan tilawah pagi, menghadirkan ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Namun, realitas dakwah di negeri minoritas Muslim mengajarkan kami tentang kesabaran. Pada hari-hari kerja, sebagian besar jamaah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tak jarang, waktu Dzuhur dan Ashar berlalu tanpa satu pun jamaah datang ke masjid. Ruang sholat yang lengang justru menjadi saksi bahwa perjuangan ini tidak selalu diwarnai keramaian. Di sinilah makna istiqamah diuji—tetap mengumandangkan adzan, tetap mendirikan sholat, tetap menjaga masjid agar hidup, meski hanya dengan beberapa orang.

Suasana berbeda terasa saat akhir pekan tiba. Hari Sabtu dan Ahad menjadi momentum kebersamaan. Wajah-wajah yang jarang terlihat mulai berdatangan. Tawa anak-anak, sapaan hangat para pekerja, serta obrolan ringan setelah sholat menghadirkan nuansa kekeluargaan yang begitu hangat. Masjid bukan sekadar tempat ibadah, tetapi menjadi ruang temu, tempat melepas rindu pada suasana kampung halaman dan ukhuwah sesama Muslim.

Menjelang Maghrib, kebaikan demi kebaikan kembali kami saksikan. Ibu-ibu jamaah dengan penuh cinta mengantarkan masakan untuk berbuka puasa. Hidangan itu bukan sekadar makanan, tetapi simbol perhatian dan kepedulian. Kami berbuka bersama dalam kesederhanaan, lalu melaksanakan sholat Maghrib berjamaah.

Ketika Isya tiba, masjid kembali hidup. Para jamaah yang telah menuntaskan pekerjaan mereka berdatangan. Sholat Isya, Tarawih berjamaah, dan kultum singkat menjadi rangkaian ibadah yang menguatkan ruhiyah. Seusai sholat, kami tidak langsung beranjak. Obrolan santai mengalir—tentang pekerjaan, keluarga di tanah air, hingga harapan untuk masa depan komunitas Muslim di Mihara. Dari percakapan-percakapan sederhana itulah terjalin kehangatan dan solidaritas.

Demikianlah keseharian program Muballigh Hijrah di Hiroshima. Tidak selalu ramai, tidak selalu mudah. Namun di balik kesunyian siang hari dan ramainya malam akhir pekan, kami belajar bahwa dakwah adalah tentang kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan menjaga amanah.

Ramadhan di Mihara mengajarkan kami satu hal penting: di sudut dunia mana pun, ukhuwah akan selalu menemukan jalannya untuk tumbuh dan menguat.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *